Di tahun kedua penyelenggaraannya di hari Sabtu tanggal 20 Agustus 2016 yang lalu, Manglayang Trail Running menyuguhkan kategori baru di jarak 42 KM, selain 10 KM dan 21 KM seperti tahun sebelumnya. Race yang digarap oleh Palawa Unpad ini menyuguhkan keindahan Bandung Timur dengan Gunung Manglayang sebagai daya tarik dan daya juang untuk para pelari. Para pelari bisa memilih kategori lomba sesuai dengan kemampuan dan target yang ingin dicapai. Saya mengikuti kategori 42 KM.

Ada banyak cerita yang ingin saya suguhkan dari race kemarin. Bagi saya race ini sekaligus ajang latihan long run dan latihan nutrisi untuk race besar saya di bulan Oktober. Masalah nutrisi saat race memang masih menjadi mimpi buruk bagi saya dalam kurun waktu setahun ini, saya masih belum menemukan formula yang tepat untuk mengatasi masalah pencernaan yang saya alami di saat lomba. Di saat kaki saya masih kuat melangkah, badan tidak bisa menerima asupan dan berujung pada tubuh yang melemah karena tidak ada energi yang bisa dijadikan bahan bakar. Saya berharap bisa segera menemukan formula nutrisi yang tepat untuk bisa memaksimalkan performa, karena saya sangat kecewa dengan hasil race setahun terakhir.

Race Day

Permulaan yang tidak terlalu baik untuk memulai perlombaan: istirahat yang kurang karena tidur larut malam dan tidak nyenyak menjadi pemanasan awal. Karena waktu start jam 5 pagi untuk kategori 42K, saya harus sudah bangun sejak jam 4 pagi untuk melakukan persiapan. Duapuluh menit menjelang waktu start saya mencoba makan sepotong roti (berbagi dengan Aldi) dan segelas minuman sereal, kemudian berjalan kaki ditambah sedikit jogging menuju garis start yang berjarak 1 km lebih dari tempat saya menginap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi ketika saya tiba di garis start, untung waktu start mundur menjadi jam 5.17 sehingga saya setidaknya tidak perlu terburu-buru ketika menyimpan barang-barang di dropbag dan masih sempat mengkonsumsi sebungkus energy gel. Kali ini saya tidak membawa vest dan botol minum, melainkan hanya setengah bungkus endurance fuel diseduh dengan 500 ml air, 2 bungkus energy gel, sebungkus energy bardan menggenggam jam tangan karena strap-nya sudah putus. Pertimbangan saya tidak membawa banyak perlengkapan karena target saya adalah latihan long run dan latihan nutrisi dengan membawa beberapa jenis sumber energi untuk saya coba konsumsi di waktu-waktu tertentu yang dirasa tepat.

Race dimulai dari kampus Unpad Jatinangor dalam cahaya masih remang-remang yang membuat para pelari kesulitan mencari arah karena tanda tidak terlihat jelas. Setelah dua kali salah belok akhirnya rombongan pelari bisa menemukan arah yang benar. Saya mencoba mendahului kumpulan pelari dengan berlari di bagian tepi jalur lari, dan menabrak sarang laba-laba yang dihuni laba-laba yang cukup besar. Cukup kaget merasakan ada laba-laba besar di kepala saya. Untung saja saya tidak digigit, tapi kalau digigit mungkin saya sudah berubah menjadi spiderman 😀

Saya berhasil merangkak ke posisi 4 di belakang Hendra Siswanto, pak Holil dan Aldi setelah lepas dari kerumunan pelari yang sama-sama mencari jalan yang benar. Di jalur setapak sebelum melewati WS1 saya menyusul Aldi dan bermaksud menjaga jarak dengan kedua pelari di depan. Namun naas bagi saya, setelah melewati WS1 di medan berupa tanah merah yang terbentang di lokasi yang akan dibangun, saya bertemu segerombolan preman lokal anjing kampung yang langsung mengepung saya. Mungkin mereka menunjukkan solidaritas sesama anak hewan kampung sini, gara-gara saya merusak sarang laba-laba. Merasa terpojok digonggongi 5 ekor anjing, saya terjatuh hingga membuat saya panik dan saya menyemprotkan air mineral yang didapat dari WS1. Akhirnya saya berhasil meloloskan diri dari kepungan, walaupun dengan mengorbankan 2 bungkus energy gel yang terjatuh saat saya bertarung dengan menghindar dari anjing kampung… Dasar nasib 🙁

Setelah WS2, kurang lebih di km 6 saya berhasil mendahului Hendra Siswanto di trek yang didominasi perkampungan dan sawah, hingga km 8,5 saya sudah berlari bareng dengan pak Holil, namun ternyata pak Holil mengambil jalan yang salah dan saya pun kabawa ku sakaba-kaba (terbawa arus – ed) yang akhirnya berakibat nyasar berdua. Untung kami berdua cepat sadar dan hanya nyasar sejauh 300 m (bolak-balik jadi 600 m). Kejadian ini membuat saya merosot ke urutan kelima.

Sampai hampir km 11 jalanan didominasi perkampungan dan jalan batu/beton. Baru setelah itu dimulai medan trail sesungguhnya berupa jalur setapak dengan pijakan tanah yang bervariasi. Di km 12,5 akhirnya saya bisa merangkak lagi ke posisi 2 di belakang pak Holil saat medan setapak yang dilalui sangat enak untuk dilariin. Tiap WS saya usahakan terus isi ulang air dengan botol genggam yang saya bawa. Botol berukuran 330 ml ini sangat pas di genggaman dan pas dengan kebutuhan saya antar WS.

Kurang lebih di km 16 saya mencoba makan roti yang ada di WS 5 namun hanya segigit sedangkan sisanya terpaksa saya buang karena tidak bisa masuk. Di sini saya mulai merasa masuk angin [sic] tapi masih tidak masalah. Setelah WS5 adalah trek favorit saya karena didominasi turunan panjang dengan medan tanah yang padat, dan akhirnya di km 20 saya bisa menyusul pak Holil hingga hampir km 22 saya masih memimpin. Sayangnya turunan habis lalu trek berganti dengan tanjakan menuju jalur pendakian Manglayang. Harus saya akui bahwa saya tidak cukup sigap sehingga kembali disusul pak Holil – beliau benar-benar juara tanjakan, bahkan punggungnya pun akhirnya menghilang dari pandangan saya.

WS6 berada di gerbang pendakian Manglayang via Baruberem, yang menjadi titik pertemuan jalur kategori 21K dengan 42K. Saya bertemu banyak pelari 21K setelah sebelumnya jarak antar pelari lumayan renggang. Tanjakannya menakjubkan: dengan jarak hanya 3,5 km, total ascent-nya lebih dari 700 meter. Walau masih kalah curam dibanding tanjakan Burangrang tetapi cukup menyesakkan dada ketika tenaga sudah mulai terkuras. Di sini saya mencoba memakan energy bar sedikit-sedikit dan alhamdulillah terasa enak dan sedikit lebih bertenaga, hanya saja air sebanyak 330 ml tidak cukup untuk menuju WS7, untung saya ketemu dr. Dini yang berbaik hati memberikan seteguk air untuk bisa bertahan menuju WS7.

Letak WS7 sangat cocok sekali yaitu salah satu pos pendakian dengan pemandangan yang cukup bagus di ketinggian sekitar 1600 mdpl. Sehabis ini jalur menurun sedikit lalu kembali mendaki sejauh 1 km menuju ketinggian 1800 mdpl. Dari puncak Manglayang yang berada di km 24 (untuk kategori 42K – ed), pelari kategori 21K dan 42K kembali berpisah rute: kategori 21K turun melalui puncak bayangan, sedangkan 42K harus siap melalui jalur memutar untuk nanti mendapat kejutan lagi.

Turunan yang lumayan curam menuju WS8 di km 25,5 menghantam pantat saya ke tanah alias tisoledat (terpeleset – ed), syukurlah kaki masih tetap aman dan tidak ada kram. Di WS8 saya bertemu peserta wanita kategori 42K yang tampaknya salah arah – sepertinya dia mengikuti jalur untuk kategori 21K – setelah saya beri tahu dia baru ngeh bahwa dia salah dari awal. Saya masih tidak melihat pak Holil jadi pasti dia jauh di depan saya karena tanjakan yang panjang akan menjauhkan jarak antara saya dengan beliau.

Turunan selanjutnya tidak bersahabat karena treknya licin sehingga saya beberapa kali hampir terjatuh namun masih bisa menjaga keseimbangan. Turunan seperti ini tidak bisa saya nikmati seperti yang sebelumnya, tetapi di beberapa bagian yang tidak terlalu licin jalurnya masih bisa dinikmati untuk menambah kecepatan.

Sampai di km 29 (WS9) trek turunan dan datar berakhir, dan setelah itu para pelari kembali diuji dengan medan tanjakan. Di WS9 ada waktu yang sedikit terbuang sehubungan dengan gelang checkpoint yang diikat terlalu kencang sampai harus digunting dan diganti dengan yang baru, ditambah lagi saya lupa di mana menaruh jam tangan sehingga harus mencari. Gap antara saya dengan pak Holil di WS ini sudah mencapai 10 menit, trek setelah ini akan memperlebar gap karena menuju km 32 kami disuguhi tanjakan menuju puncak bayangan dengan total ascent kurang lebih 400 m yang bagi saya merupakan ujian untuk terus bergerak.

Lega rasanya ketika sampai di puncak bayangan, karena rute selanjutnya akan ada turunan. Sebelumnya di km 30 saya mendengar suara Aldi semakin mendekat, yang memberikan nafas baru untuk melahap tanjakan secepat mungkin. WS10 di km 33,5 berlokasi di Batu Kuda yang menyenangkan karena akhirnya bisa ketemu makanan asin. Walaupun saya sempat bingung karena banyak gorengan tapi bukan itu yang menarik perhatian saya melainkan semangkuk mie instan rebus tenor yang tampak dicuekin sampai saya akhirnya bertanya pada panitia dan mereka mempersilahkan saya untuk memakannya. Hanya beberapa sendok mie itu saya cicipi namun telurnya saya habiskan. Para panitia tertawa melihat saya makan dengan lahap dan cepat… Hahaha…

Sedikit tanjakan terakhir dan jalurnya kemudian turun menuju WS11 di Km 36, di mana saya makan semangka tetapi air tidak saya isi ulang karena masih banyak. Di antara WS tersebut dan garis finish beberapa kali saya merasakan mual. Saya merasa lega ketika akhirnya keluar dari jalur setapak menuju gerbang Kiarapayung, karena saya tahu bahwa garis finish sudah semakin dekat. IMG_0133

Di WS terakhir di Km 38 saya minum satu-satunya tegukan minuman elektrolit di race ini. Trek jalan setapak di sisa km yang harus ditempuh terasa menyenangkan, hanya saja di tengah jalan saya kembali mual dan muntah air, sehingga harus mengkombinasikan berjalan dan berlari. Akhirnya saya bisa melihat garis finish, sambil berteriak Bandrex saya meloncat dan menyelesaikan perlombaan ini di posisi kedua. Manglayang Trail Running 42K, I beat you.

Venue (226)

Kesimpulan

Secara keseluruhan sangat bagus dan bisa direkomendasikan untuk dimasukkan ke agenda para pecinta trail running di tahun depan. Pengambilan racepack mudah, isi racepack sederhana berupa tas yang berisi kaos dari Gulf+, voucher diskon produk Gulf+, handuk dan BIB. Start untuk 42K pukul 5.00 pagi terasa terlalu dini walaupun mundur menjadi 5.17 , tapi kalau start jam 5.30 saya rasa pas. Jalurnya mantap dengan variasi trek dan elevasi yang menantang, marka cukup jelas. Alangkah baiknya dipasang reflektor juga terutama di awal jalur karena masih remang-remang saat mulai lomba. WS-nya ok, kalau bisa lebih banyak disediakan makanan asin :D. Venue sudah ok, walaupun mungkin jarak antara panggung dan garis finish bisa dibuat lebih dekat agar panggung tidak terlihat sepi karena peserta umumnya lebih memilih berada deket dengan garis finish sambil menunggu teman-teman yang belum finish.

Map MTR 42K

Course MTR kategori 42K

Elevasi MTR 42K

Profil elevasi MTR kategori 42K